𝐒𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐜𝐞𝐡 𝐓𝐚𝐦𝐢𝐚𝐧𝐠

𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐀𝐜𝐞𝐡 𝐓𝐚𝐦𝐢𝐚𝐧𝐠


Aceh Tamiang memiliki sejarah panjang yang bermula dari sebuah kerajaan kuat yang berjaya pada masa lalu. Kerajaan Tamiang mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Raja Muda Sedia yang memerintah antara tahun 1330 – 1366 M. Pada masa itu, wilayah kerajaan Tamiang meliputi daerah yang luas, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Bagian Utara: Sungai Raya dan Selat Malaka
  • Bagian Selatan: Besitang
  • Bagian Timur: Selat Malaka
  • Bagian Barat: Gunung Segama (Gunung Bendahara)

Di masa kejayaan kerajaan ini, Tamiang dikenal sebagai salah satu kekuatan politik dan ekonomi di wilayah tersebut. Kerajaan Tamiang, melalui Raja Muda Sedia, berhasil memelihara hubungan baik dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang berpengaruh besar di wilayah Sumatra. Tamiang bahkan dianugerahi Cap Sikureung dan hak Tumpang Gantung oleh Sultan Aceh atas wilayah Negeri Karang dan Kejuruan Muda. Namun, beberapa wilayah seperti Seruway, Sungai Iyu, Kaloy, dan Telaga Meuku masih menjadi wilayah protektorat di bawah Kesultanan Aceh.

Pada tahun 1908, melalui perubahan Staatblad No.112 tahun 1878, wilayah Tamiang dimasukkan ke dalam Gouvernement Aceh en Onderhoorigheden, yang menempatkannya di bawah status hukum Onderafdelling (subdivisi administratif). Dalam pembagian wilayah Afdeling Oostkust Van Atjeh (Aceh Timur), Tamiang diakui sebagai Zelfbestuurder (pengelola mandiri) dan menjadi bagian dari beberapa wilayah administratif, termasuk:

  • Landschap Karang
  • Landschap Seruway/Sultan Muda
  • Landschap Kejuruan Muda
  • Landschap Bendahara
  • Landschap Sungai Iyu
  • Gouvermentagebied Vierkantepaal Kualasimpang

Nama Tamiang sendiri memiliki sejarah yang unik dan kaya makna. Menurut legenda dan data sejarah, nama ini berasal dari istilah Te-Miyang, yang berarti "tidak terkena gatal" atau "kebal gatal" dari ""miang bambu"". Cerita ini berhubungan dengan seorang raja bernama Pucook Sulooh yang ditemukan sebagai bayi di dalam rumpun bambu Betong (bambu dalam istilah lokal disebut "bulooh"). Bayi tersebut tidak terkena miang bambu, yang biasanya menyebabkan gatal. Oleh karena itu, bayi tersebut diambil dan diangkat menjadi raja oleh Raja Tamiang Pehok, dan diberi gelar Pucook Sulooh Raja Te-Miyang, yang berarti "raja yang kebal dari miang bambu."

Sejarah Tamiang juga terekam dalam berbagai sumber kuno, di antaranya:

  • Prasasti Sriwijaya, yang diterjemahkan oleh Prof. Nilkanta Sastri, mencatat Tamiang sebagai kerajaan yang mampu bertindak kuat dalam pertempuran.
  • Data kuno Tiongkok dalam buku Wee Pei Shih menyebutkan Tamiang sebagai Kan Pei Chiang, sebuah negeri yang berjarak sekitar 35 mil laut dari Diamond Point (Posri).
  • Tamiang tercatat dalam Geographical Notices yang ditulis oleh Rushinuddin pada tahun 1310 M.
  • Dalam Syair 13 buku Nagara Kartagama, Tamiang disebut dengan nama Tumihang.

Penemuan benda-benda peninggalan budaya dan fosil di situs-situs bersejarah di Aceh Tamiang, seperti yang ditemukan oleh T. Yakob dan penulis Sartono, semakin memperkuat posisi Tamiang dalam sejarah sebagai salah satu wilayah penting di Aceh. Melalui data sejarah dan peninggalan-peninggalan tersebut, nama Tamiang diusulkan untuk dijadikan nama wilayah pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur.

Dengan sejarah yang kaya akan kebesaran kerajaan, pengaruh kebudayaan, dan relasi politik dengan Kesultanan Aceh, Aceh Tamiang tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang strategis, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan tradisi Melayu yang masih terjaga hingga kini.

𝐃𝐞𝐦𝐨𝐠𝐫𝐚𝐟𝐢 𝐀𝐜𝐞𝐡 𝐓𝐚𝐦𝐢𝐚𝐧𝐠

Kabupaten Aceh Tamiang terletak di ujung timur Provinsi Aceh, dengan koordinat geografis 03°53'18,81" – 04°32'56,76" Lintang Utara dan 97°43'41,51" – 8°14'45,41" Bujur Timur, serta ketinggian wilayah yang bervariasi antara 20 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Kabupaten ini mencakup luas wilayah sebesar 195.702,50 hektar, dengan dominasi lahan perkebunan yang menjadi sumber utama ekonomi. Perkebunan perusahaan mencakup 46.817 hektar, sementara perkebunan rakyat menempati 44.460 hektar dari keseluruhan luas wilayah.

Pada tahun 2007, Aceh Tamiang mengalami pemekaran wilayah yang meningkatkan jumlah kecamatan menjadi 12 kecamatan, dengan 213 kampung yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Kecamatan yang terluas adalah Tenggulun, dengan luas 29.555 hektar atau sekitar 15,10 persen dari total luas wilayah Kabupaten Aceh Tamiang.
Batas Wilayah
Secara administratif, Kabupaten Aceh Tamiang berbatasan dengan wilayah-wilayah berikut:
  • Sebelah Utara: Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa
  • Sebelah Timur: Provinsi Sumatera Utara
  • Sebelah Selatan: Kabupaten Gayo Lues
  • Sebelah Barat: Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tenggara
Dengan letak yang strategis, Aceh Tamiang menjadi pintu masuk antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement